PASURUAN (faktapasuruan) – Tari merupakan seni gerak yang sangat menarik untuk dipelajari, salah satunya tari tradisional yang saat ini masih cukup tinggi antusiasmenya di Kabupaten Pasuruan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak berdirinya sanggar-sanggar tari.
Salah satunya sanggar tari Dapur Kesenian Wilwatikta (DKW) yang berpusat di Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Kabupaten Pasuruan yang setiap minggunya melakukan latihan yang diikuti oleh 50 sampai 60 anak-anak dengan 3 orang pembina.
Ada beberapa tari yang menjadi andalan sanggar tari DKW sendiri yang telah banyak mendapatkan prestasi, tingkat provinsi hingga nasional yaitu tari Topeng Suminten.
Harimuji (Pak Kelantung) koordinator pembina menyampaikan, saat ini tari tradisional dan tari modern seimbang dalam perjalanan saat ini, daya tarik dimasyarakat apa yang melihat dan menyukai dengan gerak tari yang ditampilkan.
“Saat ini hampir seimbang perkembangannya terbukti saat main bareng hampir sama, semua dari yang melihat dan menyukai gerak tari,” kata Pak Kelantung, Minggu (9/8/2026).
Pak Kelantung yang merupakan pembina tari sejak 1973 dibawah naungan Dinas Pariwisata Jawa Timur, terbukti anak didiknya dalam dunia pendidikan bisa diandalkan dengan jalur prestasi untuk masuk di sekolah ternama.
“Banyak anak-anak melalui jalur prestasi untuk masuk sekolah ternama bahkan universitas melalui juara tarinya,” ungkapnya.
Dengan perkembangan jaman saat ini dan banyaknya tari modern, dirinya mengaku banyak generasi muda menciptakan tari kreasi tradisi yang lebih menarik dengan gerakan yang diciptakan, namun tetap pada pakem tari tradisional.
“Bukti tari tradisional banyak yang mencintai dengan tari kreasi tradisi, dan tercipta tari-tari kreasi baru di masyarakat,” ucapnya.
Naisya, salah satu anak didik di sanggar DKW mengungkapkan telah banyak tari tradisional yang telah dipelajari, dan sungguh menarik untuk dipertunjukkan apalagi pada momen-momen tertentu menjadi kebanggaan tersendiri bisa menyuruh tari tradisional.
“Sangat senang bisa tari tradisional dan sudah belajar 4 tahun disanggar, telah banyak jenis tari tradisional yang dipelajari,” pungkas Naisya.
(bah/dim)
