Menu

Mode Gelap
Prof Tjandra: Varian Omicron Mungkin Berdampak pada Obat Pasien COVID-19

News

Harga Daging Semakin Naik, Ini Penyebabnya

badge-check


					Harga Daging Semakin Naik, Ini Penyebabnya Perbesar

PASURUAN (faktapasuruan) – Kelangkaan sapi lokal membuat harga daging terus meroket dan sulit untuk kembali menyentuh di harga normal.

Pedagang mengeluhkan peran pemerintah yang hampir tidak ada pergerakan dalam upaya menangani kelangkaan sapi lokal dan stabilisasi harga di pasaran.

M. Habibi selaku Ketua Paguyuban Pedagang Daging Pasuruan Raya menjelaskan, terjadinya lonjakan harga daging tidak hanya untuk sapi lokal saja, bahkan daging sapi impor juga ikut naik harga jualnya.

“Kenaikan tersebut menekan pedagang karena biaya modal yang terus meningkat. Kondisi ini memaksa pedagang menaikkan harga jual agar tetap bisa bertahan,” ujar Habibi.

Dijelaskan oleh Habibi, bahwa kenaikan harga tak hanya untuk penjualan daging saja, bahkan sapi yang masih hidup juga semakin naik, baik sapi lokal maupun sapi impor.

Untuk sapi impor  harganya naik mencapai Rp 10.000 per kilogram, dengan harga jual saat ini berada di kisaran Rp 57.000 hingga Rp 65.000 per kilogram. Harga tersebut dari timbangan sapi hidup dan belum biaya pemotongan hingga transportasi,” lanjut Habibi.

Untuk sapi lokal, kenaikan harga mencapai Rp 3 – 5 juta per ekor. Sementara itu, harga sapi impor kini dibanderol di kisaran Rp 20 – 25 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas sapi.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan drh. Ainur Alfiyah menjelaskan berdasarkan data yang dimiliki, jumlah sapi potong di Kabupaten Pasuruan mencapai 90 ribu lebih. Namun para peternak cenderung memilih untuk proses penggemukan dan tidak menjual.

“Sebenarnya sesuai data jumlah sapi potong kabupaten pasuruan 90 ribu lebih. akan tetapi peternak cenderung menahan tidak dijual dulu tapi dibesarkan untuk persiapan idul adha,” jelas drh Ainur Alfiyah, Selasa (06/01/2026).

drh Ainur Alfiyah juga menjelaskan, bahwa hal tersebut dipilih peternak dikarenakan pakan ternak yang saat ini cukup melimpah dan sapi sehat untuk digemukkan. Sedangkan di pasaran ada cukup jumlahnya, akan tetapi memang harganya relatif tidak murah.

“Biasanya jagal mengambil sapi impor Brahman Cross, akan tetapi saat ini sapi BX ini harga hidupnya juga relatif lebih mahal dari biasanya. Sehingga jagal menjual dengan harga yang lebih mahal kisaran 140-150 ribu supaya nutut dengan harga hidupnya,” lanjut Ainur Alfiyah.

Mendengar jeritan para pedagang, drh. Ainur Alfiyah didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan drh. Panti Absari melihat secara langsung kondisi dan situasi dilapangan dengan mendatangi Ketua Paguyuban Pedagang Daging Pasuruan Raya M.Habibi.

Ia menjelaskan, bahwa peternak cenderung menahan sapinya untuk tidak dijual hingga di Jawa Timur terkendala adanya SE atau himbauan Gubernur terkait pembatasan sapi.

“Akan tetapi di jatim untuk sapi impor ini terkendala adanya SE/himbauan dari Gubernur terkait pembatasan sapi ini. Jadi dalam hal ini masih kami komunikasikan dengan dinas peternakan Provinsi Jatim supaya ada kebijakan terkait hal ini,” tutup drh Ainur Alfiyah.

(dim)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sedang Urus Administrasi, Residivis Curas Dibekuk Polisi

16 April 2026 - 14:15 WIB

Kolaborasi Pemkot Pasuruan–Indomaret, 250 Balita Terima Bansos dan Layanan Kesehatan

16 April 2026 - 14:08 WIB

Stabilkan Harga, Satgas Pangan Polres Pasuruan Gelontorkan 9,6 Ton Minyakita

16 April 2026 - 12:05 WIB

Nihil Calo dan Pungli, Pemohon SIM Satpas Polres Pasuruan Kota Nyaman

16 April 2026 - 08:08 WIB

Diduga Korsleting Listrik, Warung dan Rumah Warga Gempol Ludes Terbakar

15 April 2026 - 19:34 WIB

Trending di Insiden