Umroh Sambil Bersedekah, Erik Kuswanto Bagikan 300 Paket Nasi Biryani di Makkah

Admin · 21 Agu 2026, 20:19 WIB · 119 dilihat · 4 menit baca
Bagikan:
Umroh Sambil Bersedekah, Erik Kuswanto Bagikan 300 Paket Nasi Biryani di Makkah
Erik Kuswanto, S.Pd.I., saat berada di Makkah Clock Royal Tower

PASURUAN (faktapasuruan) – Perjalanan ibadah umroh tidak hanya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga dimanfaatkan Erik Kuswanto, S.Pd.I., untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama di Tanah Suci.

Erik yang berangkat umroh private selama 12 hari bersama tiga orang lainnya dari Bangil, Kabupaten Pasuruan dipercaya sebagai ketua rombongan sekaligus tour leader umroh.

Di sela pelaksanaan ibadah, Erik menggelar kegiatan sedekah dengan membagikan sebanyak 300 paket nasi biryani dan jus kemasan di Makkah.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Fakta Pasuruan
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

Menurut Erik, setiap paket makanan tersebut bernilai sekitar 10 real. Dengan jumlah 300 paket, total biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar 3.000 real, atau kurang lebih Rp15 juta, dengan perhitungan 1 real sekitar Rp 5.000.

Kegiatan berbagi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menyempurnakan ibadah umroh. Erik ingin ibadah yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan hubungan seorang hamba kepada Allah SWT, tetapi juga diwujudkan melalui hubungan baik dengan sesama manusia.

“Sedekah memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh orang lain. Dengan berbagi, kita berharap dapat membantu meringankan beban sesama dan menjadi bagian dari kebaikan,” ujar Erik.

Menginap di Zam-Zam Tower

Selama berada di Makkah, Erik juga menyebut posko sedekah sekaligus tempat menginap berada di kawasan Zam-Zam Tower, Makkah Clock Royal Tower, Fairmont Gold Hotel.

Ia menyebut tempat tersebut berada di lantai 76 dengan tipe Penthouse dan Presidential Suite dengan pemandangan langsung ke arah Ka’bah. Berdasarkan keterangannya, biaya menginap di hotel tersebut berada di kisaran Rp29 juta hingga Rp30 juta per malam.

Namun, bagi Erik, kemewahan tempat tinggal selama berada di Tanah Suci bukanlah tujuan utama. Momentum tersebut justru ingin dimanfaatkan untuk memperbanyak rasa syukur dan berbagi kepada orang lain.

Berharap Sedekah Memberi Manfaat

Erik berharap sedekah yang diberikan dapat memberikan manfaat sosial bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan.

Selain itu, ia juga berharap amal tersebut menjadi pahala jariyah, menyucikan harta dan jiwa, serta menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

“Semoga apa yang kami bagikan dapat bermanfaat bagi orang lain. Jangan melihat besar kecilnya pemberian, tetapi lihat niat dan manfaat yang bisa dirasakan oleh sesama,” ungkapnya.

Pulang Membawa Kesan Mendalam

Usai menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci, Erik mengaku mendapatkan pengalaman spiritual yang sangat mendalam.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mengizinkan kaki ini sujud di Baitullah. Perjalanan spiritual yang luar biasa, mengajarkan arti sabar, syukur, dan betapa kecilnya kita di hadapan-Nya,” tuturnya.

Menurutnya, berada di hadapan Ka’bah menjadi pengalaman batin yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

“Menatap Ka’bah secara langsung meruntuhkan segala ego dan beban dunia. Sungguh pengalaman batin yang tak ternilai harganya,” katanya.

Ia berharap sepulang dari Tanah Suci, dirinya dapat menjadi pribadi yang lebih baik serta terus menjaga semangat untuk berbagi.

“Setiap sudut Tanah Suci menyimpan ketenangan. Pulang membawa rindu yang mendalam dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” imbuhnya.

Tentang Kesabaran dan Pertolongan Allah

Dalam refleksinya, Erik juga menyampaikan pesan tentang kesabaran bagi siapa pun yang pernah mengalami hinaan, diremehkan maupun tidak dihargai oleh orang lain.

Erik juga bisa mencium hajar Aswad, Memegang Rukun Yamani, Sholat di Hijir Ismail, dan di izinkan Allah untuk menyentuh Pintu Emas Ka’bah.

Menurutnya, tidak semua luka terlihat oleh manusia. Ada orang yang bertahun-tahun menjalani hidup dalam kesunyian, menghadapi berbagai penilaian dan keraguan dari lingkungan sekitarnya.

Namun, ia meyakini bahwa Allah SWT mengetahui setiap air mata, doa dan perjuangan yang tidak diketahui manusia.

“Allah tidak pernah menilai seseorang dari banyaknya pujian manusia, melainkan dari kesabaran hati yang tetap bertahan saat dunia berpaling,” ungkapnya.

Ia mengingatkan agar seseorang tidak mudah putus asa ketika berada dalam kondisi sulit.

Bisa jadi, lanjutnya, Allah sedang membersihkan hati, menguatkan jiwa dan mempersiapkan sesuatu yang lebih baik.

“Ketika Allah sendiri yang mengangkat derajat seorang hamba, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menjatuhkannya. Ketika Allah memuliakan seseorang, seluruh penghinaan di masa lalu hanyalah cerita yang mengajarkan betapa indahnya pertolongan-Nya,” ujarnya.

Erik menutup refleksinya dengan ungkapan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”, sebagai bentuk rasa syukur atas setiap keadaan yang telah diberikan Allah SWT.

“Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah membukakan pintu kelapangan, meluaskan rezeki, dan memberikan keleluasaan pada hati serta langkahku. Jadikanlah kelapangan ini sebagai sarana untuk semakin dekat kepada-Mu,” pungkasnya.

Erik juga berdoa agar umrohnya mabrur, ditemima amal soleh, dan tidak merugi dalam setiap usaha dan berdagang.

“Yaa Allah, jadikanlah umroh kami umroh yang mabrur, Sa’i yang disyukuri, dosa yang di ampuni, amal Sholeh yang diterima, dan usaha/perdagangan yang tidak akan merugi.

Yaa Allah, mudahkanlah bagi saudaraku laki-laki atau saudaraku perempuan untuk bisa menziarahi rumah-Mu yang mulia. Menjalankan umroh yang mabrur, serta bisa menziarahi Nabimu Muhammad SAW. Karuniakanlah kepada saudaraku rezeki untuk berkunjung ke rumahmu yang Agung dan Rasulmu yang mulia pada tahun ini dan setiap tahun dalam keadaan sebaik-baiknya. Aminn,” tutup Erik Kuswanto.

(dim)

Erik Kuswanto saat berada di hadapan Ka’bah
Facebook Comments Box
119 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Fakta Pasuruan

Lihat semua artikel →