PASURUAN (faktapasuruan) – Kabupaten Pasuruan ditetapkan sebagai salah satu daerah percontohan penerapan sistem closed barn atau kandang semi tertutup dalam upaya meningkatkan produksi susu segar nasional.
Penerapan inovasi peternakan modern tersebut diharapkan mampu mendongkrak produktivitas sapi perah, memperkuat pasokan susu dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor susu.
Penetapan Kabupaten Pasuruan sebagai lokasi percontohan ditandai dengan kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan 90 ekor sapi perah impor kepada tiga koperasi susu di Jawa Timur.
Ketiga koperasi tersebut yakni KUD Dadi Jaya Purwodadi, Koperasi SAE Pujon Malang, dan KUD Sumber Makmur Ngantang Malang.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem persusuan nasional melalui modernisasi peternakan rakyat, peningkatan kualitas genetik ternak, serta penguatan kapasitas koperasi dan peternak.
Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, peningkatan produksi susu dalam negeri membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, koperasi, peternak, dan dunia usaha.
Menurutnya, penerapan sistem closed barn menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas susu sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Kami mengapresiasi komitmen Nestlé Indonesia yang selama puluhan tahun membangun kemitraan dengan peternak sapi perah rakyat,” kata Hanif.
Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menyambut baik dipilihnya Kabupaten Pasuruan sebagai salah satu lokasi implementasi teknologi closed barn.
Ia menyebut, Kabupaten Pasuruan memiliki potensi besar karena merupakan salah satu sentra penghasil susu segar terbesar di Jawa Timur.
“Susu merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan peternak,” terang Rusdi.
Sistem closed barn dirancang untuk menciptakan lingkungan kandang yang lebih nyaman dan terkontrol melalui pengaturan suhu, kelembapan, serta sirkulasi udara dengan memanfaatkan teknologi cooling pad dan exhaust fan.
Teknologi tersebut membantu mengurangi heat stress pada sapi perah sehingga pola makan, konsumsi air, dan waktu istirahat ternak menjadi lebih optimal.
Berdasarkan hasil penerapan di lapangan, sistem closed barn mampu meningkatkan produktivitas susu hingga lebih dari 20 persen dibandingkan dengan kandang konvensional.
“Dengan lingkungan kandang yang lebih nyaman, potensi genetik sapi dapat dimaksimalkan sehingga produktivitas dan kualitas susu meningkat,” jelasnya.
Penerapan sistem ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat peternakan rakyat dan mendorong peningkatan produksi susu nasional secara berkelanjutan.
(bah/dim)
