Sungai Tercemar Limbah, Warga Desa Kedungringin Akan Gelar Demo Besar Besaran

Admin · 27 Okt 2026, 14:26 WIB · 3 dilihat · 3 menit baca
Bagikan:
Sungai Tercemar Limbah, Warga Desa Kedungringin Akan Gelar Demo Besar Besaran
Warga yang mengeluhkan sungai yang berbau menyengat

PASURUAN (faktapasuruan.com) – Kondisi Kali Wrati di Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, dikeluhkan warga setelah muncul bau busuk menyengat disertai perubahan warna air menjadi hitam kemerahan. Warga menduga kondisi tersebut berkaitan dengan pencemaran limbah perusahaan di kawasan Beji dan sekitarnya.

Keluhan itu disebut telah dirasakan selama kurang lebih satu bulan. Bau tak sedap bahkan dikabarkan semakin menyengat pada malam hari hingga mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Seorang warga Dusun Balongrejo mengungkapkan, aroma busuk tersebut muncul hampir setiap hari. Kondisi itu membuat masyarakat semakin resah karena belum mengetahui secara pasti sumber bau yang mengganggu lingkungan mereka.

Advertisement
Iklan · Promosi
Pasang Iklan di Fakta Pasuruan
Jangkau ribuan pembaca aktif Jawa Timur setiap hari
Hubungi Kami

“Baunya sekitar sebulan, baunya juga setiap hari. Apalagi malam hari, tambah menyengat,” ujarnya, Selasa (27/10/2026).

Tak hanya persoalan bau, warga juga menyoroti kondisi fisik air sungai yang berubah warna menjadi hitam kemerahan. Bahkan, sejumlah warga mengaku mengalami gatal-gatal setelah bersentuhan dengan air tersebut.

Meski demikian, dugaan pencemaran itu masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan pengujian kualitas air oleh instansi berwenang.

“Selain bau tak sedap, air tersebut juga menyebabkan gatal-gatal. Bisa jadi terkontaminasi dengan limbah tersebut,” kata warga.

Keluhan serupa datang dari warga Dusun Balangbuntung. Mereka menilai kondisi Kali Wrati semakin memprihatinkan karena bau menyengat dan perubahan warna air dinilai mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kekecewaan warga pun mulai memuncak. Mereka mempertanyakan langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah, sekaligus meminta agar persoalan tersebut tidak terus dibiarkan berlarut-larut.

“Wes demo saja. Mau sampai kapan kita dikasih air bau, gatal oleh perusahaan,” tegas seorang warga.

Persoalan Kali Wrati turut mendapat perhatian Ketua Forum DAS Wrati, Henry Sulfianto, yang akrab disapa Londo. Ia menilai kemarahan warga merupakan akumulasi kekecewaan atas persoalan lingkungan yang dinilai belum mendapatkan penyelesaian konkret.

Menurut Londo, pihaknya telah berupaya mendorong penanganan persoalan Kali Wrati melalui sejumlah langkah, termasuk melayangkan surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan BBWS di Surabaya.

Namun, ia menyayangkan belum adanya kejelasan tindak lanjut yang dirasakan masyarakat, meski audiensi tersebut telah berlangsung sekitar tujuh bulan lalu.

“Audiensi dengan Pemkab Pasuruan dan BBWS di Surabaya juga sudah. Hanya dengan jawaban ‘akan segera kami tindak lanjuti’. Nyatanya, sampai warga mengeluhkan bau juga belum jelas tindak lanjutnya,” tegas Londo.

Ia meminta seluruh pihak terkait segera mengambil langkah nyata, bukan sekadar menyampaikan janji penanganan. Menurutnya, persoalan yang berdampak langsung terhadap kenyamanan warga membutuhkan koordinasi dan tindakan yang terukur.

“Kami mohon action-nya kepada pihak terkait, termasuk tim TJSL, untuk bersama-sama bergerak,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya keluhan masyarakat, warga mendesak pemerintah dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi Kali Wrati. Pengujian kualitas air dinilai penting guna mengetahui tingkat pencemaran sekaligus memastikan apakah air sungai mengandung bahan berbahaya.

Selain pemeriksaan laboratorium, warga juga meminta penelusuran terhadap sumber dugaan pencemaran agar pihak yang bertanggung jawab dapat diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang sah.

Masyarakat berharap penanganan tidak berhenti pada kegiatan pemantauan atau penyampaian janji. Mereka menginginkan solusi nyata untuk memulihkan kondisi sungai dan mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.

Warga juga meminta pemerintah menindak tegas pihak yang terbukti melanggar ketentuan lingkungan hidup. Sebab, apabila kondisi tersebut terus berlanjut tanpa penanganan yang jelas, keresahan masyarakat dikhawatirkan semakin meningkat dan berujung pada aksi protes.

Hingga berita ini disusun, sumber pasti bau busuk dan perubahan warna air Kali Wrati belum dapat dipastikan melalui hasil pengujian yang disampaikan dalam keterangan warga. Karena itu, pemeriksaan langsung oleh instansi berwenang diperlukan untuk memastikan penyebab serta menentukan langkah penanganan yang tepat.

(dim)

Facebook Comments Box
3 kali dilihat
Bagikan artikel ini:
Admin
Penulis

Admin

Jurnalis Fakta Pasuruan

Lihat semua artikel →