PASURUAN (faktapasuruan) – Sebanyak 1.334 taruna dan taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur resmi menyandang baret setelah menyelesaikan masa basis ketarunaan selama kurang lebih tiga bulan.
Prosesi pembaretan dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa selaku inspektur upacara di Pusdik Brimob Watukosek, Kabupaten Pasuruan, Kamis (8/10/2026).
Ribuan taruna dan taruni tersebut berasal dari enam sekolah, yakni 201 taruna-taruni SMAN Taruna Nala Jawa Timur, 270 SMAN 3 Taruna Angkasa Jawa Timur, 245 SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur, 270 SMAN 5 Taruna Brawijaya Jawa Timur, 135 SMAN Taruna Madani Jawa Timur, serta 213 SMAN 2 Taruna Pamong Praja Jawa Timur.
Prosesi pembaretan ditandai dengan penyiraman air bunga, penyematan baret dan lencana bela negara oleh Khofifah yang didampingi Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI.
Di hadapan para taruna dan wali taruna, Khofifah menegaskan bahwa pembaretan bukan sekadar seremoni atau pergantian atribut. Baret tersebut menjadi simbol keberhasilan melewati proses pembentukan karakter sekaligus tanda dimulainya tanggung jawab yang lebih besar.
“Pembaretan hari ini bukan sekadar seremoni. Baret yang kalian kenakan adalah simbol proses, perjuangan, disiplin sekaligus tanggung jawab,” tegas Khofifah.
Menurutnya, setelah menyelesaikan masa basis, para taruna tidak hanya membawa nama pribadi dan sekolah, tetapi juga nama Taruna-Taruni Jawa Timur sebagai bagian dari kader bela negara.
Khofifah mengatakan, masa basis selama tiga bulan telah memberikan pengalaman penting dalam membentuk kehidupan yang lebih disiplin, teratur dan mandiri. Termasuk pembatasan penggunaan gadget dan komunikasi dengan keluarga yang menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan ketarunaan tidak hanya diukur dari kemampuan menjalankan rutinitas maupun ketahanan fisik.
“Proses ini harus mengubah cara berpikir dan cara bersikap. Kalian harus tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, tangguh, bertanggung jawab, religius serta memiliki jiwa kepemimpinan,” ujarnya.
Khofifah secara khusus mengingatkan agar pendidikan ketarunaan di Jawa Timur tetap berjalan dalam ekosistem pendidikan yang humanis.
Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi kekerasan, perundungan atau bullying maupun praktik senioritas yang merendahkan martabat peserta didik.
“Kedisiplinan tidak identik dengan kekerasan. Ketegasan harus berjalan bersama keteladanan, dan kepemimpinan harus tumbuh bersama rasa hormat kepada sesama,” katanya.
Khofifah juga meminta para taruna yang nantinya menjadi senior untuk tidak menggunakan posisi tersebut sebagai alasan melakukan kekerasan terhadap junior.
Menurutnya, semakin tinggi tingkat senioritas, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi dan membimbing adik kelas.
“Jangan pernah merasa bahwa menjadi senior memberikan hak untuk melakukan kekerasan kepada junior. Justru semakin senior, semakin besar tanggung jawab untuk memberikan teladan, melindungi dan membimbing,” pesannya.
Selain karakter dan kedisiplinan, Khofifah menilai pendidikan ketarunaan juga harus mampu menjawab perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda belajar, bekerja, berkomunikasi hingga mengambil keputusan.
Karena itu, para taruna tidak cukup hanya memiliki kekuatan fisik dan kedisiplinan. Mereka juga harus mampu berpikir kritis, adaptif, menguasai teknologi serta memiliki integritas dan kompas moral yang kuat.
“Teknologi boleh berkembang semakin cepat, tetapi integritas tidak boleh tertinggal. Pengetahuan boleh semakin tinggi, tetapi karakter harus tetap menjadi fondasi,” tutur Khofifah.
Ia menambahkan, nilai keimanan dan ketakwaan, nasionalisme, integritas serta kepedulian terhadap sesama semakin penting di tengah derasnya perubahan tersebut.
Terlebih, para taruna saat ini diproyeksikan menjadi bagian dari generasi yang akan menerima tongkat estafet kepemimpinan ketika Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045.
“Kalian adalah generasi yang kelak menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Karena itu, persiapkan diri bukan hanya untuk menjadi orang yang sukses, tetapi menjadi pemimpin yang memiliki integritas, kompetensi, kepedulian dan kecintaan kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Khofifah menegaskan, keberadaan enam SMAN Taruna Jawa Timur tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak siswa berprestasi secara akademik.
Sekolah taruna juga diharapkan menjadi ekosistem pembentukan calon pemimpin masa depan dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan dan spiritualitas.
Ia mengapresiasi kolaborasi dengan TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, Kodam V/Brawijaya, Polda Jawa Timur, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), serta Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Pasuruan.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, wawasan kebangsaan, bela negara dan spiritualitas.
“Jawa Timur ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi unggul yang cerdas sekaligus berkarakter. Mereka harus mampu berdiri tegak menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri, nilai kebangsaan dan kompas moralnya,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah memberikan kepercayaan dan mendampingi putra-putrinya menjalani pendidikan ketarunaan.
Pembaretan, kata dia, menjadi momentum penting bagi keluarga setelah para taruna dan taruni menjalani masa basis dengan berbagai proses pembentukan karakter.
“Hari ini Bapak dan Ibu melihat putra-putrinya mengenakan baret. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kelak kita melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berintegritas, menghormati sesama, membanggakan keluarga serta siap mengabdi kepada bangsa dan negara,” tuturnya.
Pada akhir kegiatan, Khofifah menyerahkan piagam penghargaan kepada 12 taruna dan taruni atas capaian selama masa basis.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penampilan drum corps dan defile taruna-taruni dari enam SMAN Taruna Jawa Timur.
Khofifah berpesan agar baret yang telah dikenakan tidak hanya menjadi simbol kebanggaan, tetapi juga pengingat atas tanggung jawab yang harus dijaga.
“Jaga kehormatan baret kalian dengan prestasi, integritas dan keteladanan. Jadilah kebanggaan orang tua, sekolah, Jawa Timur, bangsa dan negara. Teruslah melangkah dengan keyakinan dan persiapkan diri mengambil peran terbaik untuk menjemput Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
(bah/dim)
